Ketua umum GEPENTA Ajak Menjaga Keutuhan NKRI

 

Banten.Tangsel.Asgolnews.com_Bertempat di Aula Madya UIN Jakarta Jln. Ir H. Juanda Kec Ciputat timur Kota Tangerang Selatan, Dema Fakultas Ushuluddin telah menggelar Seminar dan Sosialisasi Melawan Radikal* dengan tema “Peran Mahasiswa dalam menjaga Keutuhan NKRI”.(18/09)

Akhir-akhir ini banyak faham-faham yang berkembang di Indonesia dan masuk ke kampus-kampus, termasuk faham radikal. Kegiatan Seminar dan Sosialisasi melawan radikal dimaksud untuk meningkatkan peran mahasiswa dalam menjaga keutuhan NKRI dan membangun kesadaran mahasiswa dalam melawan radikalisme.

Ketua Dema Fakultas Ushuluddin Khoerudin mengatkan bahwa “Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan peran mahasiswa dalam melawan faham radikal dan menjaga keutuhan NKRI”.

Sementara itu Ketua umum GEPENTA Brigjen Pol. (Purn) Paraisan Simanungkalit sebagai narasumber utama mengatakan bahwa
“Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila, sehingga Pancasila harus dipertahankan dan dipelihara dari faham-faham radikal”

Paraisan menambahkan bahwa “Negara akan aman jika seluruh warganya bisa hidup dengan tentram dan tidak tertekan”.

Penanaman terhadap nilai-nilai bela negara harus ditanamkan sejak dini kepada masyarkat dan mahasiswa sebagai bentuk perlawanan dan penolakan terhadap faham radikal.

“Ada lima nilai bela negara, dalam rangka menekan doktrin faham radikalisme dan menjaga keutuhan NKRI, yaitu : 1) cinta tanah air, 2) sadar berbangsa dan bernegara, 3) yakin Pancasila sebagai ideologi negara, 4) rela berkorban untuk bangsa dan negara, 5) memiliki kemampuan awal bela negara” tambahnya.

Kondisi saat ini di Indonesia sudah masuk faham radikalisme seperti masuknya ISIS, Hizbut Tahrir (HT) dan faham radikal lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa HT banyak ditolak dibeberapa negara karena dianggap menyebarkan faham radikal dan Khilafah.

Dr. Arrazy Hasyim Lc, MA. Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta mengatakan bahwa “Hizbut Tahrir (HT) di dunia sudah gagal sejak lama dalam mendirikan negara Khilafah, ketika mau dibawa ke Indonesia seharusnya dipikir dulu”.

Arrazy menambahkan bahwa “Negara Indonesia sudah 70% islami, dan warganya mayoritas muslim, jadi kalau mau mendirikan negara Islam dan Khilafah di Indonesia buat apa?”.

Antara radikalisme dan terorisme memiliki kesamaan, hanya penyebutannya saja yang berbeda-beda dan keduanya memiliki ciri radikal dalam pemikiran, perkataan maupun perbuatan.

“Radikalisme itu ciri-cirinya sama dengan terorisme hanya penyebutannya saja yang berbeda tapi ciri-cirinya sama dan mereka merasa paling benar. Jadi ada radikal pemikiran, radikal kata-kata dan radikal perbuatan”, tambahnya.

Radikalisme pada mahasiswa muncul melalui forum-forum diskusi atas nama agama, mereka yang terjebak pada faham radikal biasanya mereka punya semacam romantisme jadi ingin kembali kepada jaman Jaya dan merasa pihaknya yang paling benar

Arrazy berharap bahwa “Mahasiswa tidak terjebak pada radikalisme, karena radikalisme pada mahasiswa itu masuk melalui forum-forum diskusi, tapi atas nama agama”. (Abdul).

No Responses

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!