250 Pengunjuk Rasa “Menyerbu” Kantor Pengadilan Negeri Pandeglang..ini Penyebabnya..

250 Pengunjuk Rasa Depan Pengadilan Pandeglang

Kabupaten Pandeglang, asgolnews.com– Sekitar 250 orang  masa dipimpin oleh Ust.Uci(Penanggung Jawab), Ustd. Towi (wakil kordinator Tokoh), Hendi (Kordinator Mahasiswa Cadasari-Baros) melakukan unjuk rasa (Aksi Damai 737) oleh Gerakan Rakyat Anti Mayora (GERAM) untuk menuntut pembebasan 3 Pejuang Air mereka dan agar menghentikan Intimidasi serta meminta  Usir Mayora.

Dalam aksinya di depan Kantor Pengadilan Negeri Pandeglang, Jalan raya Serang-Pandeglang KM 1 Curug Sawer kel/kec/ kab. Pandeglang Masa membawa kendaraan roda empat jenis angkot danmobil losbak total sebanyak 18 buah, motor sebanyak kurang/lebih 20 buah. Beberapa foster dan 3 buah spanduk bertuliskan Bebaskan 3 Pejuang Air Kami, Hentikan Intimidasi dan Usir Mayora. Tolak dan Usir Mayora dari Cadasari-Baros, Hentikan Privatisasi dan swastanisasi Air, Kembalikan Kearifan Lokal sebagai Pabrik Ulama & Santri, bukan Pabrik Air Kemasan. Penegak Hukum Ulah Rakyat Leutik Doang nu diadili tapi jeulma Gede (Pejabat) Geh Kudu Diadili.

Pada saat unjuk rasa berlansung Ustad Towi (Wakil Kordinator Tokoh Masyarakat Cadasari-Baros) mengatakan Daerah Baros-Cadasari merupakan daerah vital atas kehidupan rakyat banyak karena di dalamnya terdapat kawasan resapan air, kawasan lindung geologi yang berada dekatsumber mata air, dan kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang mana hal tersebut tertuang dalam Perda No. 3 Tahun 2011 tentang RTRW Kab. pandeglang 2011-2031” terangnya.

Lanjut dirinya “Landasan hukum diatas sudah jelas bagaimana negara mengatur aset rakyatnya, namun kedatangan PT. Tirta Preshindo Jaya (Mayora Group) mengacawkan segalanya, mereka menjadi biang keladi atas praktek kapitalisasinya dan memunculkan resiko-resiko besar yang merugikan masyarakat banyak. Untuk itu kami warga masayarakat Cadasari-Baros menolak keras kehadiran PT. Tirta Preshindo Jaya. Kami tidak mau tertindas, kami tidak mau kehilangan hak-hak kami atas air, atas lingkungan yang bersih, atas keserakahan penguasaan lahan kami “ jelas  Ustad Towi.

Disampaikan Juga Hendi dari (Korlap Mahasiswa Cadasari-Baros) Mengatakan Pada Tanggal 6 Febuari 2017 kami telah menyampaikan aspirasi di kantor Bupati, tetapi tidak didengar, bahkan Bupati Pandeglang acuh tak acuh meninggalkan kami. Kami menolak dengan keras kehadiran Mayora Group yang telah merugikan rakyat Cadasari-Baros. Hari hari berlalu kami tetap memperjuangkan aspirasi ini, sampai tuntutan kami didengar dan dikabulkan, tetapi kami selalu dihalangi oleh pihak kepolisian kacungnya pemerintah. Anggota kami yaitu 3 Pejuang air (Fuadi, Bimbim dan Sair) malah dikriminalisasi dan ditangkap. Penangkapan tanpa surat perintah penangkapan danprosedur yang jelas telah membuktikan bobroknya hukum di daerah kami. Melalui kuasa hukum LBH kami menuntut pembebasan rekan rekan kami” kicau Orasinya.

Sambung Hendi “Pihak Kepolisian semakin masif mengintimidasi warga dengan menutup posko perjuangan kami di Cadasari-Baros, maka dari itu kami sangat kecewa, harusnya aparat kepolisian melindungi rakyatnya, melindungi kepentingan warga bukan menjadi anteknya orang kaya dan pejabat. Allahukbar!!” Kumandang Hendi.

Sampai unjuk rasa itu selesai belum ada ketuntasan karena belum adanya  kata mufakat dan aksi atau penolakan ini akan terus berlanjut sampai ada titik terang yang mengarahkan kepada jalan perdamaian.(Andry)

No Responses

Tinggalkan Balasan